Kronologi Video Viral yang Bikin Heboh
Sebuah video yang beredar cepat di media sosial mendadak memantik sorotan luas. Dalam rekaman tersebut, seorang perwira polisi terlihat menggunakan vape dalam situasi yang dianggap janggal. Belakangan, sosok itu dikonfirmasi sebagai Dedi Kurniawan, anggota dari Polda Sumatera Utara.
Cuplikan itu memperlihatkan dirinya duduk bersama seorang wanita. Di bagian lain video, ia tampak dalam kondisi lemah hingga harus dipapah. Adegan tersebut langsung memicu asumsi publik bahwa vape yang digunakan mengandung narkoba.
Penjelasan Resmi dari Polda Sumut
Melalui keterangan resmi, pihak kepolisian menjelaskan bahwa video viral polisi sumatera utara tersebut bukan kejadian baru. Rekaman itu disebut berasal dari tahun 2025, saat Kompol DK masih aktif menangani kasus narkotika.
Menurut kepolisian, situasi dalam video berkaitan dengan aktivitas penyelidikan lapangan. Meski demikian, detail lengkapnya masih terus didalami untuk memastikan konteks sebenarnya.
Tetap Dipatsus, Ini Alasannya
Walau peristiwa terjadi di masa lalu, langkah tegas tetap diambil. Kompol DK kini ditempatkan dalam penempatan khusus (patsus) oleh Divisi Profesi dan Pengamanan Polri.
Keputusan ini bukan semata soal dugaan narkoba, tetapi lebih pada aspek etik dan profesionalitas. Perilaku dalam video dinilai tidak mencerminkan standar disiplin aparat.
Hasil Pemeriksaan: Urine Negatif
Serangkaian tes telah dilakukan untuk menelusuri dugaan penggunaan zat terlarang. Hasil pemeriksaan urine menunjukkan negatif narkoba.
Sementara itu, uji lanjutan seperti analisis rambut masih dalam proses oleh tim forensik. Pemeriksaan ini penting untuk melihat kemungkinan penggunaan dalam jangka waktu lebih panjang.
Proses Investigasi Masih Berjalan
Hingga kini, proses pemeriksaan internal masih berlangsung. Kepolisian berupaya mengurai fakta secara utuh, termasuk menggali keterangan tambahan dari pihak terkait.
Kasus ini kembali menegaskan bahwa setiap tindakan aparat berada dalam pengawasan publik. Standar etik bukan sekadar aturan tertulis, tetapi juga ekspektasi sosial yang tak bisa dinegosiasikan.